Politics and the Welfare State in Iran
For decades, political observers and pundits have characterized the Islamic Republic of Iran as an ideologically rigid state on the verge of collapse, exclusively connected to a narrow social base. In A Social Revolution, Kevan Harris convincingly demonstrates how they are wrong. Previous studies ignore the forceful consequences of three decades of social change following the 1979 revolution. Today, more people in the country are connected to welfare and social policy institutions than to any other form of state organization. In fact, much of Iran’s current political turbulence is the result of the success of these social welfare programs, which have created newly educated and mobilized social classes advocating for change. Based on extensive fieldwork conducted in Iran, Harris shows how the revolutionary regime endured through the expansion of health, education, and aid programs that have both embedded the state in everyday life and empowered its challengers. This focus on the social policies of the Islamic Republic of Iran opens a new line of inquiry into the study of welfare states in countries where they are often overlooked or ignored.
| Printing | 1 |
|---|---|
| First Edition | Yes |
| Owner | Mustamin al-Mandary |
|---|---|
| Location | Balikpapan |
| Index | 7007 |
| Added Date | Mar 06, 2026 02:05:15 |
| Modified Date | Mar 06, 2026 02:56:32 |
| Purchased | Mar 06, 2026 at Z Library |
|---|---|
| Book Condition | Sangat Bagus |
Resensi
=====
Revolusi Sosial dan Negara Kesejahteraan Iran
(Airlangga Pribadi)
Kalau kita membaca informasi dan berita-berita yang bergentayangan di media sosial tentang Iran. Mayoritas informasi yang kita dapatkan adalah negara teokratis otoriter yang menindas perempuan. Iran adalah negara yang isinya teror, pembodohan sosial dan keterbelakangan yang diternak oleh para pemuka agama dan anti edukasi maupun sains. Kalau kita telan saja dan percaya berita-berita itu maka tentu kita marah dengan Republik Islam di Iran. Namun benarkah seluruh berita-berita itu? Maka kita membutuhkan pembanding, yang salah satu pembanding terbaik adalah pengetahuan yang terlahir dari proses riset.
Disini saya menawarkan suatu pembacaan alternatif hasil dari riset terbaik-menurut pengetahuan saya- tentang kajian sosiologi-politik di Iran hasil dari Sosiolog Kevan Harris. Judul karyanya adalah A Social Revolution: Politics and Welfare State in Iran terbit tahun 2017. Didalam risetnya dia menyebutkan bahwa Republik Islam Iran adalah negara yang dalam pembangunannya berhasil mewujudkan model Welfare state. Desain Welfare yang mengubah secara progresif struktur kelas yang ada di Iran.
Suatu negara yang selalu digembleng oleh keadaan dengan embargo ekonomi, tekanan politik maupun perang namun berhasil untuk maju, bukan dengan pesatnya GDP dan pertumbuhan tinggi saja(seperti model negara neoliberal), namun ditopang oleh angka harapan hidup dengan infrastruktur yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya. Iran adalah contoh dari ucapan yang sering disebut oleh EF Schumacher small is beautiful. Seperti sering saya dengar kalau saya ngobrol asyik sama Kang Farid Gaban.
Riset Harris memperlihatkan bahwa justru ketika berhadapan dengan tekanan keras invasi Saddam Hussein melalui perang Iran vs Irak 1980-1988 justru pelan-pelan membentuk kerangka ketahanan nasional yang berbasis pada pemajuan pembangunan manusia yang pesat.
Hal itu berupa angka harapan hidup yang tinggi, ruang partisipasi dan akses pendidikan yang lebih tinggi bagi perempuan (bahkan dalam keadilan gender menunjukkan partisipasi perempuan lebih tinggi dari laki2) angka literasi yang mencapai persentase universal (hampir 100%). Serta jaminan perlindungan sosial dibidang kesehatan dan pemajuan taraf hidup yang merata sampai ke desa-desa.
Berbeda dengan stereotip tentang negara yang sangat otoritarian dalam tatanan politik di Iran terjadi tingkat kontestasi dan kompetisi yang kuat dalam ruang politik, dan kesadaran politik serta partisipasi warga yang semakin lama semakin tinggi sebagai hasil dari pemajuan Welfare di bidang sosial-ekonomi.
Berbagai capaian tersebut didasari oleh data-data ekonomi yang cukup signifikan seperti:
1) angkasa harapan hidup dari 1980 (tahun pertama revolusi Iran)- 2014: 55 tahun- 75 tahun.
2) Penurunan kematian 1980-2015: 80 kematian/1000 bayi menjadi 15/1000 bayi.
3) Terkait Revolusi pendidikan bagi perempuan menunjukkan tingkat literasi perempuan (1975-2012): dari 42% menjadi 97%.
Sementara pada partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi saat ini sekitar 50-70% mahasiswi (perempuan) adalah mayoritas.
4) Iran mengalami penurunan angka kelahiran tercepat dari (1978-1990-an): dari 7 anak menjadi 2 anak.
5) Kesyahidan bukan semata-mata mitos namun untuk memastikan menjadi bagian dari desain Welfare: Iran membentuk imam Khomeini relief center, Foundation of Martyr, Revolutionary foundations yang mengelola keluarga para syahid, rakyat desa, kaum miskin dan janda. Institusi welfare berbasis simbol kesyahidan ini mengelola program kesehatan desa,: klinik kesehatan, vaksinasi dan layanan Ibu dan anak.
Kesemua capaian- capaian kesejahteraan ini menciptakan ledakan partisipasi politik, sekaligus tuntutan politik lebih maju seiring dengan semakin tingginya formasi kelas menengah di Iran.
Semua proses Welfare policy ini mendorong regime Revolusi Islam di Iran untuk semakin lama membuka ruang inklusif bagi arena sosial-politik di Iran. Oleh karena itu sejak awal saya bilang, bahwa di Iran bukan berarti kita dengan kacamata kuda menolak perubahan dan agenda kemajuan. Namun biarkanlah perubahan itu lahir dari proses dialektika yang berkembang dalam struktur politik yang ada di Iran.
Mendukung invasi militer dengan sorak-sorai dan memimpikan perubahan sosial yang lebih demokratis di Iran adalah suatu ilusi. Suatu ilusi yang akan membawa kembali bangsa yang sedang memperjuangkan nasibnya untuk berdaulat dan berdikari dengan ratap tangis. Suatu perjuangan untuk maju menjadi bangsa yang menjadi tuan di negerinya sendiri dan menolak tunduk atas perbudakan serta eksploitasi manusia atas manusia! Menolak tunduk adalah seruan untuk Merdeka!