400
700
900
Juru Bicara Tuhan
Ian G. Barbour

Juru Bicara Tuhan

Antara Sains dan Agama

Mizan (Aug 2002)
I
9794333018
| Softcover
341 pages | Indonesia | Indonesia

Genre

  • Filsafat Islam
  • Sains

Plot

Manusia, siapa pun dia, pasti pernah disergap oleh pertanyaan-pertanyaan fundamental dalam sejarah hidupnya—semisal, apa sebenarnya hakikat kehidupan dan kebenaran. Sekalipun kepenasaran bawaan semacam ini terkadang dilindas oleh kesibukan-praktis sehari-hari, ia sesungguhnya tidak akan pernah padam sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan terus menuntut haknya: jawaban yang benar. Nah, di sinilah agama dan sains berjumpa—masing-masing mengklaim sebagai juru bicara kebenaran yang paling otoritatif.

Terhadap pertanyaan, "bagaimana manusia pertama muncul", misalnya, agama dan sains menawarkan jawaban yang sekurang-kurangnya tampak berbeda. Agama berbicara tentang Adam sebagai (hasil) ciptaan Tuhan, sementara sains berbicara tentang manusia sebagai produk evolusi. Orang bisa cepat-cepat menyimpulkan adanya hubungan konflik antara agama dan sains. Padahal, bukan tidak mungkin bisa diperoleh jawaban-jawaban yang sejalan dari kedua institusi ini. Lalu, bagaimana sebenarnya mendudukkan perkara ini dalam meja pemeriksaan kritis-argumentatif?

Ian G. Barbour seorang mahaguru di dua disiplin sekaligus: fisika dan teologi mencoba memetakan empat mazhab tentang hubungan sains dan agama: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi. Pemetaan demikian meskipun selalu mengandung simplifikasi terbukti cukup memadai untuk membaca lanskap isu, gagasan, usulan solusi yang terbentang dalam wacana seputar hubungan agama dan sains ini.

Barbour kemudian menerapkan tipologi empat mazhab ini ke dalam disiplin-disiplin keilmuan yang sering memunculkan isu-isu krusial dalam konteks hubungan sains dan agama: evolusi, kosmologi, fisika kuantum, genetika, dan neurosains (neuroscience).

Wacana ini menjadi demikian penting mengingat agama dan sains merupakan dua di antara kekuatan-kekuatan utama yang mempengaruhi nasib sejarah kemanusiaan dulu, kini, dan masa depan. Sebab, seperti ditengarai oleh Whitehead, "Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan sejarah ditentukan oleh sikap generasi sekarang terhadap hubungan antara agama dan sains."

Credits

Foreword Author Zainal Abidin Bagir

Details

First Edition Yes

Personal

Read
Index 278
Added Date May 29, 2014 04:51:45
Modified Date Oct 29, 2024 03:47:43