Ini kali tidak ada yang mencari cinta... Aku sendiri. Berjalan Menyisir semenanjung, masih pengap harap Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap Dia penyair muda, yang mengawali hidup dengan penuh gelora. Gegap gempita dia masuk ke gelanggang perjuangan kemerdekaan. Dengan deretan puisinya yang menggelegar dan mengobrak-abrik tatanan sastra masa itu. Chairil ingin merdeka, dia ingin hidup seribu tahun, tanpa harus menghamba pada siapa pun. Tetapi, jiwanya yang bebas pun lambat laun dibebani realita yang tak seindah sastra. Dan saat hati tercabik antara cinta dan cita-cita, Chairil harus mengambil pilihan pahit. Demi seni, demi puisi, demi hidup. Novel ini mengisahkan hidup dan puisi Chairil Anwar, salah satu pendiri Angkatan 45, yang meski masa hidupnya sangat singkat namun gema semangatnya masih terasa hingga kini. Lewat karya-karyanya yang monumental, Chairil hingga sekarang masih mampu menggetarkan hati para pembacanya. Hati yang memberontak mendambakan kebebasan dan keabadian.[Mizan, Qanita, Biografi, Kisah Hidup, Chairil Anwar, Pembrontakan, Revolusi, Kemerdekaan, Seni, Puisi, Dewasa, Indonesia]
| Printing | 1 |
|---|
| Owner | Mustamin al-Mandary |
|---|---|
| Location | Balikpapan |
| Read | |
| Index | 3379 |
| Added Date | Oct 28, 2017 15:37:18 |
| Modified Date | Jun 23, 2020 08:15:27 |
| Purchased | Oct 22, 2017 at Mizanstore.com for $ 85000.00 |
|---|
Ini kali tidak ada yang mencari cinta …
Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Seorang penyair muda, mengawali hidup penuh gelora. Gegap gempita dia masuk gelanggang perjuangan kemerdekaan, dengan deretan puisinya yang menggelegar dan mengobrak-abrik tatanan sastra masa itu.
Chairil ingin merdeka, dia ingin hidup seribu tahun, tanpa harus menghamba pada siapa pun. Tetapi, jiwanya yang bebas pun lambat laun dibebani realita yang tak seindah sastra. Wafat secara tragis menjelang usia ke-27 dan hanya meninggalkan warisan; sepasang sepatu dan kaus kaki hitam, satu ons gula merah, selembar uang rupiah, serta satu map lusuh berisi kertas-kertas sajak kepada mantan istri dan anak tercintanya. Chairil gagal menggenapi mimpi terakhirnya untuk menikahi sang istri sekali lagi.
Ini Kali Tak Ada yang Mencari Cinta, memotret pemberontakan batin Chairil Anwar di tengah amuk cinta dan cita-cita, serta skandal penjiplakan beberapa sajak yang mengguncang kesusasteraan tanah air di era 50-an. Kisah ini juga mengungkap tabir dendam yang disimpan Chairil selama bertahun-tahun. Dendam yang akhirnya membuat hidup sang penyair senantiasa gamang dan merasa terbuang sebagai “Binatang Jalang”.
“Chairil Anwar, ayahku .... Dalam kehidupannya yang tak menentu, dalam kesederhanaannya, dia meninggalkan jejak abadi di kehidupan bangsa ....”
- Evawani Alissa Chairil Anwar
“Ini Kali Tak ada Yang Mencari Cinta adalah sebuah novel yang dibangun dari berbagai hal yang menyangkut Chairil Anwar: puisinya, sejumlah data tentang kehidupannya, zaman yang membesarkannya. Dalam novel ini sejumlah nama yang ada dalam puisi dan kehidupan Chairil muncul sebagai latar dan tokoh, yang oleh penulis ditenun dengan rapi menjadi kisah yang imajinatif.”
- Sapardi Djoko Damono
----
Tentang Penulis
Sergius Sutanto. Novel-novelnya yang lain: Hatta, Aku Datang Karena Sejarah (2013), novelisasi kehidupan Bung Hatta, seorang negarawan Indonesia yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana serta rendah hati, dan Mangun: Sebuah Novel (2016), kisah hidup Romo Mangunwijaya dan perjuangannya untuk kaum terpinggirkan.
Karya-karya Sergi yang berlatar belakang sebagai sutradara film ini mempunyai pendekatan humanis dan mengambil sudut pandang pergulatan batin sang tokoh. Semuanya ditulis dengan gaya bertutur yang filmis.
----
Keunggulan buku ini:
Didukung langsung oleh Putri Chairil Anwar
Penulis berpengalaman menulis novelisasi biografi, Hatta dan Mangun
Mengungkap kisah-kisah hidup Chairil yang selama ini tak banyak diketahui orang