| Printing | 1 |
|---|---|
| First Edition | Yes |
| Owner | Mustamin al-Mandary |
|---|---|
| Location | Balikpapan |
| Read | |
| Index | 1955 |
| Added Date | May 29, 2014 04:51:50 |
| Modified Date | Dec 16, 2017 01:39:54 |
| Book Condition | Sangat Bagus |
|---|
Doa merupakan salah satu ibadah terbaik yang melaluinya seseorang dapat mencapai kesempurnaan diri dan kedekatan kepada Allah. Ada banyak ayat dan riwayat yang mengajarkan betapa pentingnya berdoa keapda Allah SWT. Telah masyhur disebutkan, bahwasanya doa merupakan senjatanya orang mukmin dan intisarinya ibadah.
Sebagai senjata, doa hendaknya memiliki dua "sayap" yang mesti dijaga agar tidak sampai patah. Sebab, jika salah satu sayapnya patah, niscaya doa tidak menuai hasil yang diinginkan. Dua sayap tersebut adalah raja (harap) dan khawf (cemas). Dengan dua sayap ini, pendoa menerbangkan segenap wujudnya nan lemah tak berarti -- melalui lisanya yang penuh noda dan dosa -- ke haribaan Sumber Segala Wujud: Allah 'Azza wa Jalla.
Bersama sayap harapan, sang pendoa akan senantiasa optimis dalam menjalani hidup selanjutnya. Semua kesulitan dan musibah yang dialaminya tak akan mempengaruhinya untuk senantiasa taat kepada-Nya. Baginya, janji Allah lebih besar ketimbang musibah dan deritanya. Jiwanya disarati dengan rasa optimis. Sebab, ia yakin bahwa ada Zat yang mengatur dirinya yang selalu mengasihinya. Diminta ataupun tidak.
Bersama sayap kecemasan, sayang pendoa berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki dirinya. Ia cemas akan murka-Nya karena doa yang dilantunkannya hanya sampai ke kerongkongan. Ia khawatir akan angkara-Nya karena doa yang dipanjatkannya hanya hinggap di ujung lidah.
Dua sayap ini akan mengantarkannya kepada adab berdoa. Pendoa akan mencuurahkan prhatian kepada Zat yang disapanya. Ia akan memperhatikan tujuan yang diinginkannya, bagaimana jika doanya tidak terkabul, dan semua unsur yang berjalin-berkelindan dengan doa itu sendiri.
Sebagai intisari ibadah, doa yang dipanjatkan keluar dari perasaan ikhlas, yakni murni dan tulus karena Allah. Di sini, si pendoa tidak akan mudah putus asa sekiranya doa tidak segera dikabul. Ia tahu bahwa ada hikmah di balik ditundanya doa itu.
Membaca buku ini, pembaca akan diantar ke suatu perjalanan spiritual nan panjang tapi menggairahkan. Secara perlahan, sebetulnya Sayyid Abdul-Husain Dasteghib mengajak pembaca untuk kembali menemukan intisari manusia melalui penghambaan kepada Allah. Caranya: berdoa dan munajat.